Film Buatan Hewan Pertama “The Scent of Home” Rilis
Dunia perfilman internasional hari ini terguncang oleh sebuah tayangan perdana yang paling tidak biasa dalam sejarah Festival Film Berlin. Karpet merah yang biasanya dipadati oleh aktor dan aktris glamor, hari ini rajaburma88 dipenuhi oleh mangkuk air dan mainan kunyah. Bintang utamanya bukanlah manusia. Sebaliknya, ia adalah seekor anjing Golden Retriever berusia enam tahun bernama “Barnaby”. Barnaby mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai sutradara non-manusia untuk Film Buatan Hewan Pertama di dunia yang berjudul “The Scent of Home” (Aroma Rumah).
Film ini bukanlah film di mana hewan dilatih untuk berakting di depan kamera. Jauh dari itu, ini adalah karya seni murni yang dihasilkan langsung dari pikiran bawah sadar Barnaby. Tidak ada kamera fisik yang digunakan. Tidak ada naskah yang ditulis oleh manusia. Film Buatan Hewan Pertama ini adalah visualisasi langsung dari mimpi, ingatan, dan persepsi sensorik sang anjing yang direkam menggunakan teknologi Neuro-Cinema.
Saat lampu bioskop meredup, penonton yang terdiri dari kritikus film paling elit di dunia menahan napas. Seketika, layar lebar dipenuhi oleh ledakan warna-warni abstrak yang indah. Kemudian, warna-warna itu perlahan membentuk wujud manusia, pohon, dan bola tenis. Akan tetapi, wujudnya berbeda dari penglihatan manusia. Wujud itu berpendar, bergelombang, dan penuh emosi. Penonton sedang melihat dunia, bukan melalui mata manusia, tetapi melalui hidung dan hati seekor anjing yang setia.
Teknologi Di Balik Layar
Bagaimana seekor anjing bisa membuat film berdurasi 90 menit? Proyek ini adalah hasil kolaborasi antara Barnaby dan laboratorium neurosains “Interspecies Art”. Barnaby mengenakan headset Brain-Computer Interface (BCI) khusus selama tidur dan bermain. Perangkat ini memetakan aktivitas korteks visual dan sistem limbik (pusat emosi) di otak anjing tersebut.
Selanjutnya, algoritma kecerdasan buatan (AI) Generatif menerjemahkan sinyal-sinyal saraf tersebut menjadi gambar dan suara video. Jika Barnaby mencium bau daging panggang yang lezat, AI akan memvisualisasikannya sebagai kabut emas yang hangat dan menggoda di layar. Jika ia merasa takut pada petir, layar akan berubah menjadi goresan hitam yang tajam dan menakutkan. Oleh karena itu, film ini adalah terjemahan langsung dari pengalaman subjektif hewan ke dalam bahasa visual yang bisa dipahami manusia.
Produser eksekutif proyek ini, Dr. Sarah Jenkins, menjelaskan tantangannya. “Tantangan terbesar kami adalah membiarkan Barnaby menjadi seniman. Seringkali, manusia ingin mengedit atau ‘memperbaiki’ gambar agar terlihat logis. Namun, kami menahan diri. Kami membiarkan narasi itu mengalir seliar dan sejujur mungkin sesuai dengan apa yang dirasakan Barnaby,” ungkapnya.
Alur Cerita yang Menguras Air Mata
Meskipun abstrak, Film Buatan Hewan Pertama ini memiliki narasi emosional yang sangat kuat. Ceritanya mengikuti perjalanan Barnaby menunggu pemiliknya pulang kerja. Bagi manusia, itu hanya 8 jam. Namun, bagi Barnaby, itu terasa seperti seabad penantian yang penuh kerinduan.
Di layar, waktu tampak melambat. Bayangan di ruang tamu bergerak seperti hantu. Suara langkah kaki di luar apartemen digambarkan sebagai detak jantung yang berdebar kencang. Ketika pemiliknya akhirnya pulang, layar meledak dalam euforia cahaya putih dan suara tawa yang menggema. Akibatnya, separuh penonton di bioskop terlihat menangis tersedu-sedu. Mereka baru menyadari betapa dalamnya cinta seekor hewan peliharaan kepada manusianya.
Kritikus film dari The New York Times memberikan ulasan bintang lima. “Ini bukan sekadar film. Ini adalah mesin empati. Film Buatan Hewan Pertama ini menghancurkan ego manusia. Kita akhirnya sadar bahwa kita bukanlah satu-satunya makhluk yang memiliki jiwa yang kompleks dan penuh cinta di planet ini,” tulisnya.
Dampak pada Hak Asasi Hewan
Rilisnya film ini memicu gelombang diskusi baru tentang hak asasi hewan. Selama ini, hukum memandang hewan sebagai “properti” atau benda. Akan tetapi, jika hewan bisa menciptakan karya seni yang menyentuh hati, apakah mereka masih pantas dianggap benda? Apakah Barnaby memiliki hak cipta atas filmnya?
Pengacara Barnaby (ya, dia punya pengacara) sedang mengajukan gugatan bersejarah. Mereka menuntut agar Barnaby diakui sebagai “Pencipta” yang sah dan berhak atas royalti tiket. Jika gugatan ini berhasil, uang hasil penjualan tiket akan dimasukkan ke dalam dana perwalian (trust fund) untuk kesejahteraan Barnaby dan sumbangan ke tempat penampungan hewan liar.
Selain itu, aktivis lingkungan melihat ini sebagai alat kampanye yang ampuh. Bayangkan jika kita bisa melihat film yang dibuat oleh paus yang lautnya tercemar plastik, atau orangutan yang hutannya terbakar. Film Buatan Hewan Pertama ini bisa menjadi jembatan komunikasi antar-spesies yang selama ini hilang. Kita tidak lagi hanya menduga apa yang mereka rasakan; kita bisa melihatnya langsung.
Masa Depan Seni Interspesies
Kesuksesan “The Scent of Home” membuka pintu bagi genre baru: Sinema Interspesies. Studio film besar di Hollywood dikabarkan mulai melirik “sutradara” lain. Proyek berikutnya yang sedang dalam tahap produksi adalah film dokumenter yang “disutradarai” oleh seekor elang, menampilkan sensasi terbang yang sesungguhnya dari sudut pandang predator udara.
Namun, ada juga kekhawatiran etika. Apakah kita mengeksploitasi mimpi hewan demi hiburan kita? Apakah Barnaby setuju mimpinya ditonton jutaan orang? Menjawab hal ini, tim peneliti memastikan bahwa proses perekaman dilakukan tanpa paksaan dan non-invasif. Barnaby tampak sangat bahagia saat melihat ekornya sendiri di layar lebar, menggonggong riang seolah mengenali karyanya.
Kesimpulannya, hari ini batas seni telah diperluas. Seniman tidak lagi harus berkaki dua. Film Buatan Hewan Pertama mengajarkan kita untuk melihat dunia dengan rasa takjub yang baru. Akhirnya, di dalam kegelapan bioskop, kita belajar menjadi sedikit lebih manusiawi dengan melihat dunia melalui mata seekor anjing.